Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

FIFA Rilis Stadion Untuk Piala Dunia 2018 Rusia

FIFA - FIFA telah merilis nama nama stadion yang akan di pakai untuk Confederations Cup 2017 dan Fifa World Cup 2018 di Rusia.

Berikut adalah nama stadion yang telah di rilis oleh FIFA
- Ekaterinburg Arena - Ekaterinburg
- Fisht Stadium - Sochi
- Kazan Arena - Kazan
- Kaliningrad - Kaliningrad
- Luzhniki Stadium - Moscow
- Mordovia Arena - Saransk
- Nizhny Novgorod Stadium - Nizhny Novgorod
- Rostov Arena - Rostov
- Samara Arena - Samara
- Saint Petersburg Stadium - Saint Petersburg
- Volgograd Arena - Volgograd

Kesempatan Untuk Bergabung Dengan TNI

Video game memang berpotensi membangkitkan minat anak terhadap hal hal yang berbau ketentaraan. Lihat saja pemain-pemain game bergenre "First Person Shooter" yang mungkin pengetahuan soal persenjataan menyaingi tentara sungguhan. Nah, Panglima TNI, Jendral Moeldoko, menyampaikan kalau beliau berniat membuka peluang untung para gamers bergabung dengan TNI.

Kabar ini pertama disampaikan oleh kompas yang tengah meninjau demonstrasi penggunaan alat komunikasi produksi Harris Radio.

Ada beberapa poin menarik dalam sambutan yang disuarakan oleh Jendral Moeldoko. Diantaranya adalah membuka peluang bagi peminat dunia IT untuk bergabung bersama TNI. seperti yng beliau sampaikan "harus di optimalkan penggunaanya. Mulai dipikirkan dari sekarang tentang menggunakan software dalam Battle dan Tactical Management System. Jadi anak muda sekarang hobinya kalau masuk tentara terlampiaskan".

Prospek menjadi tentara pasti membangkitkan godaan tersendiri bagi sejumlah pemuda dan pemudi. Bagaimana tidak? kalau diterima, karirmu setelah selesai pendidikan sudah jelas. Kalau kamu berhasil lulus Akabri, kamu bahkan berpeluang menjadi salah satu petinggi TNI dimasa depan. Belum lagi kelebihan-kelebihan seperti dana pensiun yang terjamin, rumah dan kendaraan dinas, dan lain sebagainya, yang bisa kamu peroleh di posisi yang lebih tinggi.

Selain keuntungan materil yang disebutkan tadi, kamu juga bisa merasakan sendiri memegang senjata-senjata yang biasanya hanya bisa kamu lihat di game. Tak ada salahnya memang, fokus menyandang senjata melalui kacamata karakter di dalam video game. Tapi pasti ada sebagian dari kamu yang cukup berjiwa patriot, hingga ingin menyandang senjata sungguhan demi melindungi bangsa dan negara.

Tapi realita terkadang memang mengganggu fantasi. Agar gamers bergabung dengan TNI, pasti yang terbayang adalah pelatihan berat yang harus dilalui, serta disiplin kaku. Jendral Moeldoko berniat membuka divisi khusus yang bisa menggunakan jasa para ahli IT dan gamers. Salah satu yang ia contohkan adalah divisi baru TNI yang bernama Cyber War.

Seperti yang disampaikan oleh Jendral Moeldoko, "isinya orang-orang nyentrik. Standar kemiliteranya kita abaikan sedikit. Jadi yang diperlukan adalah bakat mereka dalam mengembangkan Cyber War".

Tampaknya beliau memahami kalau orang-orang yang TNI butuhkan untuk divisi ini memiliki sifat yang berbeda dari yang biasanya, dan tidak bisa diperlakukan benar-benar sama. Karenanya, divisi ini pun dilonggarkan sedikit aturan ketentaraanya. Tetap saja para gamers yang berminat sebaiknya melatih fisik dan mental mereka, karena ini akan menjadi komitmen panjang. 

Titik Balik Dari Sepak Bola Indonesia?


PSSI telah mempunyai pengurusan baru tahun 2015/2019 dalam susunan pengurusan tersebut tidak jauh berbeda dari pengurusan sebelumnya. Kepengurusan sekarang di ini bisa dibilang di dominasi oleh orang orang parpol dan organisasi yang hanya mementingkan kepentingan kelompok mereka, selain itu pada pengurusan PSSI sekarang masih di dominasi oleh orang lama.

Apakah prestasi yang bisa di banggakan dari pengurusan PSSI 2011/2014 sehingga mereka begitu percaya diri mencalonkan dirinya kembali? Dualisme liga hinga dualisme timnas bisa di bilang prestasi? atau pengaturan skor dan sepak bola gajah? Penunggakan gaji club Indonesia atau meninggalnya pemain yang berkompetisi di tanah air ini? Apakah itu sebuah prestasi sehingga bapak bapak tersebut dengan gagahnya maju dalam pengurusan 2015/2019? Kalau itu prestasi mengapa Azwar Anas mengundurkan diri dari jabatan ketua PSSI di tahun 1999? 

Tapi ada sepercik harapan pada Timnas U19 yang berhasil menjadi juara AFF U19 serta lolos ke gelaran Piala Asia U19. Namun harapan itu di gadaikan sendiri oleh PSSI, mereka menjadikan tim ini seperti sapi perah dengan mengadakan Tour Nusantara dengan 2 episode, alhasil tim yang dilatih Indra Syafri ini gagal total di ajang Piala Asia U19.

Sekarang PSSI telah dibekukan oleh Kemenpora dan menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat Indonesia apalagi dengan pembekuan ini Indonesia semakin dekat dengan sanksi FIFA yang beberapa kali digunakan oleh PSSI untuk berlindung dari Kemenpora.

Sebenarnya apa yang harus ditakuti dari sanksi FIFA? Seharusnya ini bisa menjadi titik balik sepakbola kita, banyak negara yang disanksi FIFA berubah ke arah yang positif. Contohnya Timor Leste, negara ini suskses mengangkangi Indonesia di peringkat FIFA padahal disaat negara ini masih menjadi provinsi di Indonesia mereka tidak pernah lolos ke PON (Pekan Olahraga Nasional) selain itu ada Bosnia Herzegovina, negara ini bahkan menjadi kontestan Piala Dunia 2014 setelah di sanksi oleh FIFA pada tahun 2011.

Kemenpora juga bisa belajar dari pemerintahan Australia untuk menghindari sanksi FIFA. Australia sendiri pernah melakukan intervensi kepada FFA (PSSI Australia) tapi mereka terbebas dari sanksi FIFA. Intervensi yang di lakukan pemerintah Australia kepada FFA bukan tanpa sebab. Karena saat itu keadaan sepakbola Australia tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia saat ini, pengaturan skor, jual beli pertandingan, kental akan politik, hingga pemilik club yang menjabat posisi penting di FFA. Hasilnya Australia bahkan menjadi langganan kontestan Piala Dunia dan terakhir Australia berhasil menjuarai Piala Asia 2015.

Keputusan yang diambil Kemenpora ini bisa saja menjadi masalah baru bagi sepakbola Indonesia kedepanya, salah satunya adalah mengulang apa yang terjadi pada tahun 2012 dimana terjadinya dualisme liga hingga timnas, pasalnya banyak pemilik klub di Indonesia adalah pejabat PSSI serta kroninya. Masalah kedua adalah Liga Indonesia yang akan di kelola oleh KONI-KOI untuk sementara, karena dalam memutar kompetisi membutuhkan anggaran yang tidak sedikit dan berarti Kemenpora akan memakai uang "rakyat" untuk mengelola liga sebagaimana yang di tulis dalam surat keputusan Kemenpora. Rakyat indonesia bisa saja mempersilahkan Kemenpora untuk memakai uang mereka jika sepakbola Indonesia benar benar bisa berprestasi tapi jika sebaliknya?

Rakyat Indonesia hanya inginkan sepakbola di negara ini bebas dari unsur politik, PSSI dan pengelola liga yang profesional, tidak ada lagi pemain yang mengemis meminta gaji yang tidak dibayar pihak club, dan yang terpenting adalah Timnas Indonesia kembali menjadi macan asia.